Oleh: Joni Mardianto,SS. M.Par Praktisi Pariwisata
Minangkabau hari ini ibarat sebuah rumah gadang yang masih berdiri megah di hadapan mata. Ukiran-ukirannya tetap memukau, gonjongnya tetap menjulang ke langit, dan kebanggaan terhadap warisan leluhur masih sering kita dengungkan. Namun di balik kemegahan itu, ada kegelisahan yang perlahan mengendap: tiang-tiang penyangga yang selama ini menjaga kekokohan nilai dan jati diri Minangkabau mulai rapuh dimakan zaman, bahkan oleh kelalaian kita sendiri.
Kita masih bangga mengucapkan pepatah “ndak lakang dek paneh, ndak lapuak dek hujan.” Akan tetapi, kebanggaan itu sering berhenti sebagai slogan. Di tanah kelahirannya sendiri, nilai-nilai yang dahulu menjadi roh kehidupan masyarakat Minang perlahan kehilangan daya hidupnya. Yang tersisa sering kali hanya simbol dan seremoni, sementara substansinya semakin menjauh dari praktik keseharian.
Ketika Lembaga Adat Kehilangan Daya Pengaruh
Dahulu, Kerapatan Adat Nagari (KAN) maupun Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) hadir sebagai penjaga keseimbangan sosial. Mereka bukan sekadar institusi, melainkan tempat masyarakat mencari jalan keluar ketika terjadi perselisihan, tempat nilai diwariskan, dan tempat keadilan sosial ditegakkan melalui prinsip “kusuik ka disalasaian, karuah ka dijaniahan.”
Kini, peran tersebut terasa semakin memudar. Di banyak tempat, lembaga adat lebih sering tampil dalam kegiatan seremonial, penyematan gelar adat, penyambutan tamu kehormatan, atau agenda formal lainnya. Tentu kegiatan tersebut penting, tetapi jika hanya itu yang tersisa, maka lembaga adat berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai penjaga moral dan pengarah kehidupan masyarakat.
Modernisasi memang membawa perubahan. Namun perubahan tidak semestinya membuat lembaga adat kehilangan relevansi. Justru di tengah derasnya arus globalisasi, masyarakat membutuhkan kompas nilai yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan identitas budaya.
ABS-SBK yang Semakin Jauh dari Kehidupan
Orang Minang memiliki falsafah yang sangat kuat: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Falsafah ini merupakan sintesis yang luar biasa antara adat dan agama. Ia bukan hanya slogan budaya, melainkan panduan hidup yang membentuk karakter masyarakat Minangkabau selama berabad-abad.
Begitu pula konsep Tigo Tungku Sajarangan yang menempatkan Niniak Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai sebagai tiga unsur kepemimpinan yang saling melengkapi.
Namun pertanyaannya, masihkah ketiga unsur tersebut bekerja dalam harmoni sebagaimana yang dicita-citakan para leluhur?
Realitas hari ini menunjukkan bahwa koordinasi dan sinergi ketiga unsur itu tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Masing-masing sering bergerak dalam ruangnya sendiri. Akibatnya, falsafah ABS-SBK lebih sering terdengar dalam pidato dan seminar daripada terlihat dalam perilaku sosial masyarakat.
Padahal, sebuah falsafah hanya akan hidup jika dipraktikkan. Ketika ia berhenti menjadi pedoman tindakan dan hanya menjadi bahan retorika, maka yang tersisa hanyalah romantisme masa lalu.
Generasi Muda yang Kehilangan Arah
Kerapuhan institusi dan melemahnya internalisasi nilai akhirnya bermuara pada generasi muda. Mereka tumbuh di tengah dunia yang berubah sangat cepat. Teknologi menghadirkan berbagai pengaruh baru, media sosial membentuk pola pikir baru, dan budaya global masuk tanpa batas.
Dalam kondisi seperti ini, generasi muda membutuhkan pegangan yang kokoh. Sayangnya, tidak sedikit yang justru mengalami kekosongan identitas. Mereka lahir sebagai orang Minang, tetapi semakin jauh dari pemahaman terhadap nilai-nilai keminangkabauan.
Konsep raso jo pareso, semangat musyawarah, penghormatan kepada orang tua, dan tanggung jawab sosial perlahan tergeser oleh budaya individualisme dan orientasi sesaat. Tentu tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada generasi muda. Mereka adalah produk dari lingkungan sosial yang gagal menyediakan ruang pewarisan nilai secara efektif.
Jika rumah gadang tidak lagi menjadi pusat pembelajaran budaya, maka generasi muda akan mencari referensi identitas dari tempat lain.
Membangun Kembali Api yang Hampir Padam
Tulisan ini bukan ratapan, apalagi nostalgia yang menolak perubahan. Modernisasi adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Yang menjadi persoalan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan hilangnya kemampuan kita menjaga nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau.
Masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan. Lembaga adat perlu kembali memperkuat fungsi pembinaan sosial. Niniak Mamak perlu kembali hadir sebagai pembimbing generasi. Alim Ulama harus semakin dekat dengan realitas kehidupan anak muda. Cadiak Pandai perlu menjembatani nilai tradisional dengan tantangan zaman modern.
Api Tigo Tungku Sajarangan tidak boleh dibiarkan padam. Sebab selama api itu masih menyala, harapan untuk menjaga identitas Minangkabau tetap ada.
Minangkabau tidak akan hilang karena perubahan zaman. Ia hanya akan hilang jika orang Minang berhenti percaya pada nilai-nilai yang telah membesarkannya. Dan jika itu terjadi, maka yang tersisa hanyalah nama besar dalam buku sejarah—sebuah peradaban yang pernah berjaya, namun gagal diwariskan oleh anak cucunya sendiri.



0 Komentar