Mari bersama sama kita sukseskan acaranya

 


Perkuat Benteng Literasi, Polda Sumbar dan HGI Edukasi Mahasiswa Padang Bahaya Aktivitas Digital Manipulatif

 


Wartaminangnews.com — Pesatnya perkembangan aktivitas digital di Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda, kini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Di balik kemudahan akses platform online dan layanan hiburan digital, muncul berbagai risiko aktivitas digital manipulatif yang dinilai dapat berdampak pada kondisi sosial maupun psikologis masyarakat usia produktif.

Berdasarkan data PPATK, nilai transaksi aktivitas digital ilegal di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2024, nilainya bahkan disebut mencapai ratusan triliun rupiah. Tingginya penggunaan internet, budaya serba instan, serta rendahnya kesadaran digital menjadikan generasi muda sebagai kelompok yang paling rentan terhadap risiko aktivitas digital yang merugikan.

Menyikapi kondisi tersebut, Higgs Games Island (HGI) bersama Polda Sumatera Barat menggelar seminar edukatif bertajuk “Terjebak di Balik Layar: Psikologi dan Dampak Sosial Aktivitas Digital Berisiko bagi Generasi Muda” di Padang, Selasa (12/5).

Seminar tersebut menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya literasi digital, kesadaran hukum, serta kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan platform online yang semakin cepat. Kegiatan ini dihadiri mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Putra Indonesia YPTK Padang, Universitas Andalas, dan sejumlah institusi pendidikan lainnya di Sumatera Barat.

Dalam sesi diskusi, para narasumber menyoroti bahwa aktivitas digital berisiko tidak hanya berdampak terhadap aspek ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan kehidupan sosial masyarakat apabila tidak diimbangi dengan kesadaran digital yang baik.



Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumbar, Kombes Pol. Andry Kurniawan menegaskan bahwa penanganan terhadap aktivitas digital ilegal tidak dapat dilakukan hanya melalui penegakan hukum semata, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak.

“Pencegahan tidak bisa dilakukan aparat penegak hukum saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, komunitas, dan pelaku industri digital,” ujarnya.

Menurut Andry, edukasi dan pendekatan preventif menjadi langkah penting agar generasi muda lebih bijak dalam menghadapi perkembangan dunia digital yang semakin kompleks.

Senada dengan itu, Ahli Hukum ITE Ryan Abdisa Sukmadja menilai literasi digital merupakan benteng utama bagi generasi muda agar tidak mudah terjebak dalam sistem digital yang manipulatif dan merugikan.

“Literasi digital menjadi benteng utama agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam sistem digital yang manipulatif dan merugikan,” jelas Ryan.

Sementara itu, perwakilan HGI, Ray, menyebut tantangan digital saat ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknologi semata, melainkan membutuhkan penguatan edukasi dan kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan.

“Di era platform online saat ini, literasi digital bukan lagi sekadar tambahan pengetahuan, tetapi sudah menjadi kemampuan penting yang harus dimiliki generasi muda,” ungkapnya.

Ia menambahkan, HGI bersama Polda Sumatera Barat ingin mendorong terbentuknya budaya digital yang lebih sehat agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara lebih positif, produktif, dan bertanggung jawab.

Posting Komentar

0 Komentar