Mari bersama sama kita sukseskan acaranya

 


Selidiki Dugaan Peluru Nyasar di UNP, Tim Gabungan Periksa 10 Saksi



Wartaminangnews.com – Penyelidikan kasus dugaan peluru nyasar yang melukai seorang mahasiswi Universitas Negeri Padang (UNP) dan warga terus berjalan intensif. Tim gabungan dari Polisi Militer Kodam (Pomdam) XX Tuanku Imam Bonjol (TIB) bersama aparat terkait kini mengedepankan pendekatan ilmiah dan forensik guna mengungkap secara pasti penyebab insiden yang menyita perhatian publik tersebut.

Komandan Pomdam XX TIB, Kolonel Cpm Laksono Puji Lisdianto, didampingi Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Kav Taufiq, menjelaskan bahwa proses penyelidikan telah dilakukan sejak laporan pertama diterima. Tim langsung bergerak melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pengumpulan keterangan dari sejumlah saksi hingga larut malam, kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya.

“Penyelidikan dan olah TKP sudah mulai kita lakukan sejak ada laporan bahwa korban jatuh di lokasi tersebut. Kegiatan berlangsung hingga malam hari dan langsung dilanjutkan keesokan harinya,” ujar Kolonel Laksono.

Hingga saat ini, sedikitnya 10 orang saksi telah diperiksa secara mendalam. Mereka terdiri dari rekan-rekan korban, petugas keamanan kampus, hingga personel militer yang terlibat dalam kegiatan latihan menembak beserta panitia pelaksana.

Pemeriksaan dilakukan untuk menyusun kronologi kejadian secara utuh. Namun, penyidik menemukan fakta menarik di lapangan. Berdasarkan keterangan awal para saksi, tidak seorang pun mengaku mendengar suara letusan atau bunyi tembakan saat peristiwa terjadi.

Fakta tersebut menjadi salah satu aspek penting yang kini terus didalami oleh tim investigasi. Karena itu, pihak TNI membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat maupun insan pers yang memiliki informasi tambahan untuk turut membantu proses pengungkapan kasus.

“Jika ada masyarakat atau rekan-rekan wartawan yang melihat maupun mendengar sesuatu terkait kejadian tersebut, informasi itu sangat kami perlukan agar peristiwa ini bisa menjadi lebih terang,” kata Kolonel Cpm Laksono Puji Lisdianto.

Dalam upaya menjaga objektivitas dan transparansi penyelidikan, TNI juga menggandeng Kepolisian Daerah Sumatera Barat. Koordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumbar telah dilakukan sejak tahap awal penyelidikan.

Menurut Laksono, sinergi dengan kepolisian diperlukan agar seluruh proses pembuktian dapat diuji secara profesional dari sisi hukum maupun forensik.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda Sumbar, khususnya Ditreskrimum, termasuk saat bersama-sama melaksanakan olah TKP di area kampus UNP,” jelasnya.


Lapangan Tembak Ditutup Total

Sementara itu Kapendam XX TIB Kolonel Kav.Taufiq menyebutkan,insiden tersebut juga memicu evaluasi menyeluruh terhadap fasilitas lapangan tembak yang digunakan saat latihan. Meski secara fisik tanggul pengaman dan pelindung lapangan dinilai telah memenuhi standar keamanan, pimpinan TNI tetap mengambil langkah tegas dengan menghentikan seluruh aktivitas di lokasi tersebut.

“Atas instruksi pimpinan, lapangan tembak tersebut ditutup sementara dan tidak boleh digunakan sampai investigasi serta evaluasi total selesai dilaksanakan,"jelas dia.

Ke depan, lanjutnya Kodam tengah mengkaji sejumlah opsi strategis, mulai dari rehabilitasi total fasilitas yang ada, pembangunan lapangan tembak tertutup (indoor), hingga relokasi lokasi latihan ke kawasan yang lebih aman dan jauh dari pemukiman masyarakat.

"Diketahui, latihan yang berlangsung pada hari kejadian merupakan latihan khusus untuk menguji kemampuan personel dalam rangka persiapan kompetisi menembak, di luar jadwal latihan rutin institusi,"ujar Kolonel Kav. Taufiq


Misteri Proyektil 9 Milimeter

Salah satu fokus utama penyelidikan saat ini adalah hasil temuan proyektil yang dinilai tidak sesuai dengan jenis senjata yang digunakan dalam latihan.

Tim investigasi mengungkapkan bahwa personel yang berlatih menggunakan senjata laras panjang dengan amunisi kaliber 5,56 milimeter. Namun proyektil yang berhasil diangkat dari tubuh korban justru berukuran 9 milimeter.

Perbedaan tersebut memunculkan tanda tanya besar dan menjadi perhatian serius tim penyidik. Secara teknis, terdapat ketidaksesuaian antara jenis senjata yang digunakan dalam latihan dengan proyektil yang ditemukan.

Meski demikian, tim investigasi menegaskan tidak akan terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil pemeriksaan balistik selesai dilakukan.

“Secara logika jarak dan jenis proyektil memang terdapat anomali. Namun kami membutuhkan hasil uji balistik yang sahih untuk mencocokkan seluruh data fisik yang ada. Pendalaman masih terus dilakukan agar hasil penyelidikan benar-benar akurat sesuai fakta di lapangan,” tutup Kolonel Kav.Taufiq.

Hingga kini, masyarakat masih menunggu hasil investigasi resmi yang diharapkan mampu mengungkap secara terang sumber proyektil serta rangkaian peristiwa yang menyebabkan mahasiswi UNP dan warga tersebut mengalami luka.


Posting Komentar

0 Komentar