Wartaminangnews.com, Kabupaten Solok — Upaya mendorong kemandirian petani sekaligus mengatasi persoalan sampah organik dilakukan Universitas Tamansiswa (UNITAS) Padang melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tahun 2026 di Jorong Sampan Tanah, Nagari Baru Bajanjang, Kabupaten Solok.
Kegiatan yang berlangsung pada 6 hingga 20 Agustus 2026 tersebut diisi dengan pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar sampah organik sisa pertanian dan rumah tangga.
Program ini mengusung skema “Integrasi Inovasi Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat, Mewujudkan Pembangunan Berdampak Berkelanjutan Berbasis Potensi Lokal.” Kegiatan melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi di UNITAS Padang dan dilaksanakan di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Barat.
Kelompok mahasiswa di Jorong Sampan Tanah dipimpin Walfajri Gumanti, didampingi dua Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Ir. Syafizal, MP dan Marissa Jemmy, SH., MH.
Berawal dari Keluhan Petani
Sebelum memberikan pelatihan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi dan diskusi langsung dengan masyarakat, khususnya kelompok petani, serta berkoordinasi dengan perangkat nagari.
Dari hasil pengamatan tersebut, ditemukan salah satu persoalan yang cukup sering dihadapi petani, yakni sulitnya memperoleh pupuk untuk kebutuhan pertanian. Kalaupun tersedia, harga pupuk dinilai cukup mahal sehingga dapat menambah beban biaya produksi.
Kondisi tersebut mendorong tim PKM UNITAS menawarkan solusi yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, yaitu mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat agar mampu memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat untuk pertanian,” kata Walfajri Gumanti.
Manfaatkan Sampah Organik
Pelatihan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan bahan, proses pembuatan, hingga pemantauan dan evaluasi hasil fermentasi.
Bahan utama yang digunakan relatif mudah diperoleh, yakni sampah organik sisa pertanian dan rumah tangga. Sementara bahan pendukung berupa air, gula, dan larutan eco enzyme.
Adapun tahapan yang diperkenalkan kepada masyarakat meliputi:
1. Sampah organik dihaluskan atau dipotong menjadi ukuran kecil.
2. Sampah yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam wadah atau reaktor, kemudian ditambahkan air dan larutan eco enzyme.
3. Bahan dicampur sesuai komposisi yang telah ditentukan.
4. Seluruh bahan diaduk hingga merata, kemudian ditempatkan dalam wadah untuk proses fermentasi.
5. Proses fermentasi dipantau secara berkala.
6. Setelah proses fermentasi selesai, pupuk organik cair dapat dipanen dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan.
Tim juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya proses fermentasi yang tepat. Salah satu indikator yang diamati adalah perubahan aroma selama proses berlangsung. Jika muncul bau busuk yang menyengat, perlu dilakukan evaluasi karena dapat mengindikasikan proses fermentasi tidak berlangsung dengan baik.
Dorong Petani Lebih Mandiri
Wali Jorong Sampan Tanah Nagari Baru Bajanjang, Edi Hendri, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa UNITAS Padang. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi kelompok tani sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah organik yang selama ini belum optimal.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat terus diterapkan setelah kegiatan mahasiswa berakhir.
“Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat, khususnya kelompok tani, mendapatkan pengetahuan untuk membuat pupuk organik cair sendiri dari bahan yang mudah ditemukan di sekitar. Ini tentu dapat membantu memenuhi kebutuhan pupuk secara mandiri,” ujarnya.
Selain memberikan alternatif sumber pupuk, kegiatan tersebut juga memiliki manfaat lingkungan karena membantu mengurangi timbunan sampah organik dari rumah tangga maupun aktivitas pertanian.
Wujud Nyata Pengabdian Perguruan Tinggi
Kegiatan PKM UNITAS Padang ini menjadi salah satu bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
Dengan menggabungkan pengetahuan akademik, inovasi, dan pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa tidak hanya belajar dari masyarakat, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat Jorong Sampan Tanah diharapkan semakin mampu mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk yang mahal, sekaligus mendukung terciptanya pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan.



0 Komentar